Tarisa [12001161]
Schein, Deal & Peterson (2002) berpendapat bahwa "School cultures are complex webs of traditions and rituals that have been built up over time as teachers, students, parents, and administrators work together and deal with crises and accomplishments. Cultural patterns are highly enduring, have a powerful impact on performance, and shape the essays people think, act, and feel"
Budaya sekolah
merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari
waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama
dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak
yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak.
Berdasarkan pendapat Schein,
Deal & Peterson (2002) dapat saya simpulkan bahwa kultur
sekolah ini memiliki hubungan yang kuat antara semua warga sekolah dengan
pihak-pihak terkait seperti guru, siswa, orangtua, dan administrator. Guru dan
siswa adalah unsur yang sangat penting dalam sebuah prosese pembelajar, namun peran
orangtua dan administrator juga sangat dibutuhkan dalam kesuksesan peserta
didik dalam belajar. Hubungan yang baik dan kuat antara pihak-pihak terkait akan
dapat menciptakan kinerja yang baik pada seluruh warga sekolah.
Dalam literatur
sosiologi pendidikan, kebudayaan sekolah dimaknai sebagai: a complex set of beliefs values and traditions, ways of thinking and
behaving, yaitu seperangkat keyakinan, nilai, dan tradisi, cara berpikir
dan berperilaku yang membedakannya dari institusi-institusi lainnya seperti
yang dikutip dari pendapat Vembriarto (1993).
Lebih lanjut
dikemukakan bahwa kebudayaan sekolah memiliki unsur-unsur penting, mulai dari
yang abstrak/non-material hingga yang konkrit/material, yaitu:
1.
Nilai-nilai moral, sistem peraturan, dan
iklim kehidupan sekolah.
2.
Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah
yang terdiri atas siswa, guru, non teaching specialist dan tenaga administrasi.
3.
Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan
maupun fakta-fakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan.
4. Letak lingkungan, dan prasarana fisik
sekolah gedung sekolah, dan kelengkapan lainnya.
Dari pernyataan Vembriarto
(1993) dapat kita garis bawahi bahwa sekolah berperan dalam menyampaikan
kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu kita harus selalu
memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, kita
harus siap jika di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu yang
diakibatkan adanya keanekaragaman kebudayaan yang ada di wilayah sekoah.
Keterbukaan warga sekolah dengan adanya keanekaragaman sangat diperlukan kerena
untuk memudahkan interaksi setiap warga sekolah satu dengan yang lain.
Keterbukaan ini juga harus dibentengi kehati-hatian supaya warga sekolah bisa
menyaring masuknya kebudayaan baru yang tidak baik bagi lingkungan sekolah.
Berdasarkan pendapat Djemari
(2004) kultur sekolah yang positif sangat penting bagi seluruh warga sekolah. Diterangkan
lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kultur sekolah yang positif dapat
memperbaiki kinerja sekolah, membangun komitmen warga sekolah serta membuat
suasana kekeluargaan, kolaborasi, ketahanan belajar, semangat terus maju,
dorongan bekerja keras, dan tidak mudah mengeluh.
Kultur sekolah dibangun
melalui kesungguhan dan komitmen yang kuat yang dilaksanakan secara
konsisten dengan program-program aksi yang konkrit dengan strategi
pengkondisian, pembiasaan, dan keteladanan, baik melalui pendekatan struktural
maupun kultural. Pendekatan struktural denganmembuat kesepakatan berupa
regulasi seperti peraturan, tata tertib, dan sebagainya. yang mengikatsiswa,
guru, dan seluruh warga sekolah lainnya, adanya program-program pembiasaan yang
lambat laun akan menjadi budaya/karakter, sedangkan pendekatan kultural melalui
interaksi dengan menanamkan nilai-nilai, sikap dan prilaku yang diintegrasikan
pada setiap mata pelajaran atau melalui kegiatan ekstra kurikuler, dan yang
terpenting dengan cara pembudayaan dengan keteladanan yang ditunjukkan oleh
kepala sekolah, pendidik dan tenaga kependidikan lainnya di sekolah. Zamroni (2010)
berpendapat “Setiap sekolah mempunyai kultur, tapi sekolah yang sukses hanyalah
sekolah yang memiliki kultur positif yang sejalan dengan visi dan misi
pendidikan yang menjadi harapan dan cita-cita dari seluruh warga sekolah”. Contoh
kultur positf disekolah:
- Warga sekolah memiliki keyakinan
hanya mereka yang belajar keras dan sungguh-sungguh yang akan memperoleh
prestasi tinggi
- Memegang teguh bahwa prestasi dan
proses mencapainya seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan
- Menjunjung tinggi nilai-nilai
religius, norma sosial, etika dan moral
- Membangun jembatan antara visi,
misi, dan aksi
- Kepala Sekolah, Pendidik, dan
Tenaga Kependidikan memiliki kinerja dan etos kerja yang baik dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya di sekolah.
- Menghargai prestasi siswa
- Lingkungan sekolah yang bersih,
rapi, sejuk, dan aman.
Kultur sekolah
berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan
sekolahnya. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan
sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Untuk
membangun visi sekolah ini, perlu kolaborasi antara kepala sekolah, guru, staf
administrasi dan orangtua siswa. Kultur sekolah akan baik apabila:
a) kepala sekolah dapat
berperan sebagai model,
b) mampu membangun
kerjasama tim,
c) belajar dari guru,
staf, dan siswa, dan,
d) harus memahami
kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan.
Kepala sekolah dan guru
harus mampu memahami lingkungan sekolah yang spesifik tersebut. Karena, akan
memberikan perspektif dan kerangka dasar untuk melihat, memahami dan memecahkan
berbagai problem yang terjadi di sekolah. Dengan dapat memahami permasalahan
yang kompleks sebagai suatu kesatuan secara mendalam, kepala sekolah dan guru
akan memiliki nilai-nilai dan sikap yang amat diperlukan dalam menjaga dan
memberikan lingkungan yang kondusif bagi berlangsungnya proses pendidikan yang
bermutu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar