Senin, 30 Mei 2022

Perangkat Pembelajaran

Perangkat Pembelajaran

Oleh : Tarisa [12001161] 

Perangkat pembelajaran di sekolah sangat dibutuhkan dalam memaksimalkan kegiatan di ruang kelas, utamanya untuk memberikan semangat siswa dalam belajar dan menerima pelajaran. Untuk itu, kini setiap guru dituntut lebih kreatif dalam merencanakan segala perangkat pembelajaran yang butuhkan hingga praktik pelaksanaannya

Perangkat pembelajaran merupukan hal yang harus disiapkan oleh guru sebelum melaksanakan pembelajaran. Dalam KBBI (2007: 17), perangkat adalah alat atau perlengkapan, sedangkan pembelajaran adalah proses atau cara menjadikan orang belajar. Menurut Zuhdan, dkk (2011: 16) perangkat pembelajaran adalah alat atau perlengkapan untuk melaksanakan proses yang memungkinkan pendidik dan peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran. Perangkat pembelajaran menjadi pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas, laboratorium atau di luar kelas. Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa penyusunan perangkat pembelajaran merupakan bagian dari perencanaan pembelajaran. Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk silabus dan RPP yang mengacu pada standar isi. Selain itu, dalam perencanaan pembelajaran juga dilakukan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian, dan skenario pembelajaran.

Perangkat pembelajaran artinya kompetensi yang menunjukkan pada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar Hamalik, 2001:81. Menurut Suhadi 2007:24 mengemukakan bahwa “Perangkat pembelajaran adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.” Dari uraian tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Perangkat pembelajaran sebagai sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan pedoman yang akan digunakan dalam proses pembelajaran atau digunakan pada tahap tindakan dalam kegiatan belajar dan mengajar. Berkaitan dengan hal tersebut maka guru harus siap dan mampu dalam menyusun perangkat pembelajaran, sebagaimana yang diutarakan Hamalik 2008:38 bahwa perangkat pembelajaran merupakan sarana dan sistem untuk mencapai tujuan pembelajaran. Perumusan tujuan dalam pembelajaran adalah yang utama dan setiap proses pengajaran senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, untuk itulah proses pengajaran itu mutlak direncanaan, itu sebabnya suatu sistem pengajaran selalu mengalami dan mengikuti tiga tahap yakni tahap analisis menentukan dan merumuskan tujuan, tahap sintesi perencanaan proses yang ditempuh, tahap evaluasi mengevaluasikan tahap pertama dan kedua Hamalik, 2008:46.

Menurut Hamalik 2008:11 terdapat tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran Antara lain:

1. Rencana, adalah penataan ketenagaan, material, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.

2. Saling ketergantungan, Antara unsur-unsur sisem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan tiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran.

3. Tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan yang harus dicapai.

4. Silabus Silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran Kunandar, 2013:4. Penyusunan silabus haruslah disesuaikan dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan, karena digunakan sebagai acuan dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran. Dalam kurikulum 2013 silabus tidak lagi dikembangkan oleh guru namun telah disiapkan oleh tim pengembangan kurikulum, baik ditingkat pusat maupaun wilayah. .

5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP Permendikbud nomor 65 tahun 2013 tentang standar proses pendidikan dasar dan menengah menjelaskan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai kompetensi dasar. Setiap pendidik dalam satuan pendidikan berkewajiban menyususn RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Komponen RPP terdiri atas:

a. Identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan.

b. Identitas mata pelajaran atau temasubtema.

c. Kelas semester.

d. Materi pokok.

e. Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus tercapai.

f. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja opoerasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan.

g. Kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi.

h. Materi pembelajaran memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indicator ketercapaian kompetensi.

i. Metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapau KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai.

j. Media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran.

k. Sumber belajar, berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau, sumber belajar lain yang relevan.

l. Langkah langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup.

m. Penilaian hasil pembelajaran. RPP memiliki peranan yang penting dalam pencapaian tujuan pembelajaran, untuk itu dalam penyusunan RPP seharusnya tidak sembarangan namun harus memperhatikan prinsip-prinsip dalam penyusunannya.

Menurut Kunandar 2013:6-7 beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu:

a. Perbedaan individual peserta didik Antara lain kemampuan awal, tingkat intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan soosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, danatau lingkungan peserta didik.

b. Partisipasi peserta didik.

c. Berpusat peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, inovasi, dan kemandirian.

d. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirangcang untuk mengembangkan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.

e. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut, RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remidi.

f. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan Antara KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indicator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.

g. Mengakomodasi pembelajaran tematik terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.

h. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi. 

Senin, 23 Mei 2022

Kurikulum

Tarisa [12001161]

Sebelum membahas lebih jauh tentang kurikulum, saya akan menyampaikan terlebih dahulu apa itu kurikulum? Jika kita tinjau dari segi bahasa maka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Sedangkan jika ditinjau dari segi bahasa awalnya istilah kurikulum bermula dari bahasa Yunani yang bisanya dipergunakan dalam dunia atletik curere yang berarti berlari. Kurikulum ini juga erat hubungannya dengan kata curier atau kurir yang berarti penghubung atau sesorang yang bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Jika dikaitkan dengan pendidikan, kurikulum bisa dikatakan cara mempercepat tujuan dari pendidikan.

Jika dilihat dari arti yang lebih luas, istilah kurikulum ini bisa kita maknai sebagai suatu jalur yang mesti diikuti oleh seseorang untuk bisa menggapai tujuannya. Untuk kurikulum yang ada di sekolah maupun di tingkat lainnya, tentunya berkaitan langsung dengan pihak-pihak yang berada di sekolah sebagai pedoman untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Terus pertanyaannya sekarang apa hubungan (relasi) antara pendidikan dengan kurikulum?

Berdasarkan materi yang disampaikan bapak Budiono pada mata kuliahnya tentang relasi antara pendidikan dengan kurikulum dapat saya simpulkan bahwa Kurikulum merupakan isi dari pendidikan, sedangkan pendidikan merupakan tujuan pendidikan yang memuat komponen-komponen yang dibutuhkan dalam pembelajaran seperti sarana dan prasara dan lain-lain. Sehingga hubungan (relasi) antara pendidikan dengan kurikulum yaitu sebagai pengaturan mengenai bahan pembelajaran yang dapat dipedomani dalam aktivitas belajar mengajar.

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang harus ada dan tidak dapat dipisahkan dalam sistem pendidikan. Dimana kurikulum akan memberikan arah dan menjadi pedoman dalam pelaksanaan proses pendidikan, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan formal. Tanpa adanya kurikulum proses pendidikan tidak akan berjalan terarah dengan baik. Jika tidak ada kurikulum maka di sekolah tidak akan ada proses pendidikan, karena yang menentukan aktivitas proses pendidikan berupa kegiatan pembelajaran semuanya ditentukan dalam kurikulum. Dengan demikian, bukan hal yang berlebihan jika Beauchamp (1998) menyebutkan bahwa, “curriculum is the hearth of education”. Kurikulum adalah jantungnya pendidikan.

Apa fungsi kurikulum dalam dunia pendidikan?

Kurikulum memiliki beberapa fungsi yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Di antaranya fungsinya adalah fungsi penyesuaian, fungsi integrasi, fungsi diferensiasi,fungsi persiapan, fungsi pemilihan, serta fungsi diagnostik.

a) Untuk fungsi penyesuaian, artinya kurikulum dapat menyesuaikan (beradaptasi) dengan perubahan zaman.

b) Fungsi integrasi maknanya ia dapat menjadi media pembentuk pribadi yang berintegritas. Sementara itu,

c) fungsi diferensiasi mengacu pada kegunaan kurikulum untuk dapat memberikan reward kepada masing-masing individu meskipun mereka berbeda-beda.

d) Untuk fungsi persiapan, penyusunan kurikulum sekolah berguna untuk menyiapkan para siswa supaya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

e) Fungsi pemilihan memungkinkan peserta didik dapat menyesuaikan minat mereka dalam memilih program pendidikan.

f) Terakhir, fungsi diagnostik dapat mendorong para pelajar untuk terus menggali potensi diri yang dimiliki.

Guna mewujudkan semua fungsi tersebut, sekolah atau lembaga pendidikan membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai demi tercapainya tujuan yang diinginkan. Untuk memenuhinya, sekolah bisa mengajukan pinjaman modal kerja dari Pintek dengan bunga yang flat. Tentunya ini pilihan yang tepat untuk memajukan kegiatan belajar di masa sulit ini.

Kenapa kurikulum di Indonesia sering berubah?

Sejak merdeka, terdapat berbagai contoh kurikulum sekolah yang pernah diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Dimulai dari Kurikulum 1947 yang pertama kali digunakan. Kemudian, dilanjutkan dengan Kurikulum 1952, Kurikulum 1964, Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, Kurikulum 2004, Kurikulum 2006, Kurikulum 2013, dan Kurikulum Merdeka Belajar atau Sekolah Penggerak. Banyaknya kurikulum yang pernah diterapkan ini menunjukkan bahwa para pemangku kebijakan senantiasa berupaya menyajikan kurikulum  yang sesuai dan cocok dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, selama kurun waktu tertentu, kurikulum bisa saja akan diperbarui demi kebaikan pendidikan di Indonesia.

Walaupun kurikulum sering berganti, untuk saat ini terdapat tiga kurikulum pendidikan yang berlaku dan diterapkan di Indonesia. Kurikulum pertama adalah kurikulum 2013 secara penuh, yaitu kurikulum yang diterapkan pemerintah untuk mengganti kurikulum 2006 atau sering disebut sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Kurikulum kedua adalah kurikulum darurat yaitu Kurikulum 2013 yang disederhanakan. Kemudian kurikulum ketiga yaitu kurikulum Mmerdeka, yaitu kurikulum yang baru saja diluncurkan oleh kementerian pendidikan, kebudayaan, riset, dan teknologi baru-baru ini.

Kurikulum Merdeka sebelumnya bernama kurikulum prototipe. Kurikulum Merdeka ditujukan untuk memulihkan pembelajaran pascapandemi Covid-19. Kurikulum ini memiliki pembelajaran intrakurikuler yang beragam. Jadi konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.

Apa saja peranan dari kurikulum?

Kurikulum memiliki beberapa peranan yang penting dalam kehidupan. Di antaranya adalah peranan konservatif, kreatif, serta kritis dan evaluatif. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya.

a) Peranan Konservatif artinya kurikulum berperan dalam mentransmisikan nilai-nilai masa lalu yang masih dianggap relevan dengan masa kini. Penjelasan ini sesuai dengan fakta bahwa hakikat pendidikan adalah proses sosial dari masyarakat beserta bagian dari masyarakat tersebut.

b) Peranan Kreatif artinya di sini, kurikulum berguna untuk menciptakan sesuatu yang baru sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Terlebih lagi di era seperti sekarang ini, kebutuhan masyarakat terhadap suatu hal kian meningkat pesat. Dengan begitu, kurikulum dapat dipakai untuk menjalankan peran kreatif mengikuti perkembangan zaman sekaligus kebutuhan.

c) Peranan Kritis dan Evaluatif artinya kurikulum sekolah memiliki peranan kritis dan evaluatif. Artinya, keberadaan kurikulum bisa membantu pelajar untuk lebih peka terhadap kondisi dan juga situasi. Di sini, kurikulum adalah media/pedoman untuk memberikan nilai, ujian, sekaligus evaluasi kepada para pelajar atas hal yang telah dilaksanakan, terutama dalam proses pembelajaran.

  

Sabtu, 14 Mei 2022

Karakteristik Peserta Didik

Karakteristik Peserta Didik

 Oleh: Tarisa [1200161]

Sebagai seorang pendidik menurut saya mengenal karakteristik peserta didik merupakan hal yang sangat penting. Kenapa mengenal karakteristik dikatakan penting? Dengan mengetahui atau memahami karakteristik peserta didik kita akan dapat dengan mudah melaksanakan serta mengelola segala sesuatu yang berkaitan dengan pembelajaran yang didalam kelas, karena kita tahu bahwa setiap anak didik tentu memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan kita sebagai pendidik maupun calon pendidik tentu harus memiliki kemampuan untuk mengetahui karakteristik tersebut demi tercapainya kenyamanan serta tujuan pembelajan yang ingin dicapai. Menurut Sudirman Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.

Menurut Dr. Meriyati, M.Pd untuk mengenal dan memahami peserta didiknya, seorang guru hendaknya dibekali dengan Ilmu Psikologi Pendidikan, Ilmu Psikologi belajar dan Ilmu Psikologi Perkembangan serta ilmu kesulitas anak dalam belajar. Ilmu tersebut terdapat konsep-konsep dasar tentang perkembangan kejiwaan peserta didik yang sangat membantu guru dalam mendampingi mereka. Disiplin ilmu ini sudah mulai dilupakan atau kurang diperhatikan guru sehingga kesulitan demi kesulitan dialami guru ketika berhadapan dengan peserta didik. Banyak masalah yang dihadapai peserta didik yang tidak terlalu berat tetapi karena kurang tepatnya pendekatan dan terapi yang digunakan guru dalam menyelesaikan masalah itu. Hal ini tidak menghasilkan penyelesaian secara tuntas dan masalah itu tetap menyelimuti peserta didik yang memberatkan langkahnya.

Saya sangat setuju dengan pendapat Dr. Meriyati, M.Pd. kesetujuan ini berdasarkan pengalaman yang saya alami saat saya mengajar disalah satu lembaga bimbingan belajar yang ada di daerah saya. Pada saat itu saya mengajar kelas Calistung (Membaca, Menuis, dan Berhitung) yang kebetulan anak pada tingkat itu berada di usia 4-7 tahun. Saya pernah dihadapkan dengan seorang anak yang yang sangat malas saat disuruh menulis, dan setiap pertemuan anak itu tidak pernah mau belajar menulis karena memang ia tidak bisa untuk menulis. Kebetulan ditempat saya mengajar semua guru ada dilakukan pelatihan yang dipimpin pemilik bimbel didaerah saya. Saat dilakukan pelatihan mengajar saya menanyakan permasalahan yang saya hadapi pertanyaannya kira-kira seperti ini “Kak bagaimana ya solusi untuk anak yang saat belajar menulis tapi anaknya tidak mau.” Kak Rima menjawab “saat seorang anak tidak mau melakukan sesuatu kemungkinan ada yang terlewatkan atau kesulitan yang dihadapi anak.” Kak Rima melanjutkan penejasanya bahwa saat anak tidak mau menulis tanyakan dulu alasan mengapa anak tersebut tidak mau melakukan itu, karena memang anak tersebut tidak mau menulis karena dia tidak bisa menulis atau kesulitan saat disuruh menulis maka dapat dipastikan ada tahap pra menulis seorang anak tersebut ada yang terlewatkan. Dan saat itu kami diajak kak Rima praktek menulis menggunakan tangan yang tidak bisa atau tidak pernah dipakai untuk menulis, contohnya saya bisanya menulis menggunakan tangan kanan saat menulis maka saat praktek itu saya menggunakan tangan kiri kemudian tidak boleh melihat tulisan dibuku tlis langsung melainkan menulis dengan melihat kamera hp masing-masing.

Saat itu semua guru yang mengikuti pelatihan itu mengalami kesulitan termasuk saya. Semua tulisan yang kami tulis berantakan dibuku dan kami kesulitan menggunakan tangan yang biasanya tidak dipakai untuk menulis. Kak Rima kembali menjelaskan “bigutulah kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang tidak bisa menulis, karena mereka merasa menulis adalah hal yang sulit dilakukan karena itu mereka menolak untuk menulis.” Saya paham yang disampaikan kak Rima bahwa kita harus memahami anak didik kita dan kita harus masuk kedunia mereka untuk bisa memahami dan merasakan perasaan mereka, karena mungkin untuk menulis adalah hal yang mudah untuk kita lakukan tapi berbeda dengan mereka yang memang baru mengenal itu. Karena itu sebelum menulis kak Rima menyarankan kami untuk melakukan kegiatan-kegiatan pra menulis kepada mereka seperti melatih keseimbangan tangan salah satunya dengan cara memasukan air dari cangkir ke botol. karena adanya pembekalan ilmu psikologi berbentuk pelatihan yang dilakukan kepada guru-guru akhirnya saya mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi.

Dr. Meriyati, M.Pd kembali menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas, seorang guru dapat berperan sebagai Psikolog, yang dapat mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar, memotivasi dan memberi sugesti yang tepat, serta memberikan solusi yang tuntas dalam menyelesaikan masalah anak didik dengan memperhatikan karakter dan kejiwaan peserta didiknya, guru berperan sebagai Tut Wuri Handayani yang memberikan arahan bagi anak didiknya dan mendorong mereka untuk lebih maju ke depan. Guru juga hendaknya mampu berperan sebagai seorang dokter yang memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya. Salah diagnosa maka salah juga terapi dan obat yang diberikan sehingga penyakitnya bukannya sembuh tetapi sebaliknya semakin parah.

Begitu pentingnya mengenal dan memahami karakter peserta didik, untuk itu seorang pendidik harus meluangkan waktunya bersama peserta didik dan memberikan perhatian yang maksimal pada peserta didik dalam membimbing mereka pada tercapainya tujuan pendidikan. Sesungguhnya keberadaan dan kesunguhan guru dalam melaksanakan tugas akan memberikan energi positif bagi peserta didiknya dalam mewujudkan harapan indah meraih cita-cita yang luar biasa. Banyak manfaat yang dapat dipetik bila seorang guru mampu mengenal kepribadian dan karakter siswanya dengan baik. Beberapa manfaat tersebut yaitu untuk mengetahui kelebihan yang mereka miliki dan dapat meningkatkannya, melihati kelemahan yang mereka miliki dan memperbaikinya, dan mengetahui potensi-potensi yang ada pada diri mereka dan mengoptimalkannya untuk kesuksesan dimasa yang akan datang.

Perangkat Pembelajaran

Tarisa [12001161]   Perangkat Pembelajaran (Silabus, RPP, Media Pembelajaran, Bahan Ajar, LKS, dan Perangkat Evaluasi) Perangkat pembela...