Karakteristik
Peserta Didik
Oleh: Tarisa [1200161]
Sebagai seorang
pendidik menurut saya mengenal karakteristik peserta didik merupakan hal yang
sangat penting. Kenapa mengenal karakteristik dikatakan penting? Dengan
mengetahui atau memahami karakteristik peserta didik kita akan dapat dengan
mudah melaksanakan serta mengelola segala sesuatu yang berkaitan dengan
pembelajaran yang didalam kelas, karena kita tahu bahwa setiap anak didik tentu
memiliki karakteristik yang berbeda-beda dan kita sebagai pendidik maupun calon
pendidik tentu harus memiliki kemampuan untuk mengetahui karakteristik tersebut
demi tercapainya kenyamanan serta tujuan pembelajan yang ingin dicapai. Menurut
Sudirman Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan
yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya
sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.
Menurut Dr. Meriyati,
M.Pd untuk mengenal dan memahami peserta didiknya, seorang guru hendaknya
dibekali dengan Ilmu Psikologi Pendidikan, Ilmu Psikologi belajar dan Ilmu
Psikologi Perkembangan serta ilmu kesulitas anak dalam belajar. Ilmu tersebut
terdapat konsep-konsep dasar tentang perkembangan kejiwaan peserta didik yang
sangat membantu guru dalam mendampingi mereka. Disiplin ilmu ini sudah mulai
dilupakan atau kurang diperhatikan guru sehingga kesulitan demi kesulitan
dialami guru ketika berhadapan dengan peserta didik. Banyak masalah yang
dihadapai peserta didik yang tidak terlalu berat tetapi karena kurang tepatnya
pendekatan dan terapi yang digunakan guru dalam menyelesaikan masalah itu. Hal
ini tidak menghasilkan penyelesaian secara tuntas dan masalah itu tetap
menyelimuti peserta didik yang memberatkan langkahnya.
Saya sangat setuju
dengan pendapat Dr. Meriyati, M.Pd. kesetujuan ini berdasarkan pengalaman yang
saya alami saat saya mengajar disalah satu lembaga bimbingan belajar yang ada
di daerah saya. Pada saat itu saya mengajar kelas Calistung (Membaca, Menuis,
dan Berhitung) yang kebetulan anak pada tingkat itu berada di usia 4-7 tahun. Saya
pernah dihadapkan dengan seorang anak yang yang sangat malas saat disuruh
menulis, dan setiap pertemuan anak itu tidak pernah mau belajar menulis karena
memang ia tidak bisa untuk menulis. Kebetulan ditempat saya mengajar semua guru
ada dilakukan pelatihan yang dipimpin pemilik bimbel didaerah saya. Saat dilakukan
pelatihan mengajar saya menanyakan permasalahan yang saya hadapi pertanyaannya
kira-kira seperti ini “Kak bagaimana ya solusi untuk anak yang saat belajar
menulis tapi anaknya tidak mau.” Kak Rima menjawab “saat seorang anak tidak mau
melakukan sesuatu kemungkinan ada yang terlewatkan atau kesulitan yang dihadapi
anak.” Kak Rima melanjutkan penejasanya bahwa saat anak tidak mau menulis
tanyakan dulu alasan mengapa anak tersebut tidak mau melakukan itu, karena
memang anak tersebut tidak mau menulis karena dia tidak bisa menulis atau
kesulitan saat disuruh menulis maka dapat dipastikan ada tahap pra menulis
seorang anak tersebut ada yang terlewatkan. Dan saat itu kami diajak kak Rima
praktek menulis menggunakan tangan yang tidak bisa atau tidak pernah dipakai
untuk menulis, contohnya saya bisanya menulis menggunakan tangan kanan saat menulis
maka saat praktek itu saya menggunakan tangan kiri kemudian tidak boleh melihat
tulisan dibuku tlis langsung melainkan menulis dengan melihat kamera hp
masing-masing.
Saat itu semua guru
yang mengikuti pelatihan itu mengalami kesulitan termasuk saya. Semua tulisan
yang kami tulis berantakan dibuku dan kami kesulitan menggunakan tangan yang
biasanya tidak dipakai untuk menulis. Kak Rima kembali menjelaskan “bigutulah
kesulitan yang dihadapi oleh anak-anak yang tidak bisa menulis, karena mereka merasa
menulis adalah hal yang sulit dilakukan karena itu mereka menolak untuk
menulis.” Saya paham yang disampaikan kak Rima bahwa kita harus memahami anak
didik kita dan kita harus masuk kedunia mereka untuk bisa memahami dan merasakan
perasaan mereka, karena mungkin untuk menulis adalah hal yang mudah untuk kita
lakukan tapi berbeda dengan mereka yang memang baru mengenal itu. Karena itu
sebelum menulis kak Rima menyarankan kami untuk melakukan kegiatan-kegiatan pra
menulis kepada mereka seperti melatih keseimbangan tangan salah satunya dengan
cara memasukan air dari cangkir ke botol. karena adanya pembekalan ilmu
psikologi berbentuk pelatihan yang dilakukan kepada guru-guru akhirnya saya
mendapatkan solusi dari masalah yang dihadapi.
Dr. Meriyati, M.Pd kembali
menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas, seorang guru dapat berperan sebagai
Psikolog, yang dapat mendidik dan membimbing peserta didiknya dengan benar,
memotivasi dan memberi sugesti yang tepat, serta memberikan solusi yang tuntas
dalam menyelesaikan masalah anak didik dengan memperhatikan karakter dan
kejiwaan peserta didiknya, guru berperan sebagai Tut Wuri Handayani yang
memberikan arahan bagi anak didiknya dan mendorong mereka untuk lebih maju ke
depan. Guru juga hendaknya mampu berperan sebagai seorang dokter yang
memberikan terapi dan obat pada pasiennya sesuai dengan diagnosanya. Salah
diagnosa maka salah juga terapi dan obat yang diberikan sehingga penyakitnya
bukannya sembuh tetapi sebaliknya semakin parah.
Begitu pentingnya
mengenal dan memahami karakter peserta didik, untuk itu seorang pendidik harus
meluangkan waktunya bersama peserta didik dan memberikan perhatian yang maksimal
pada peserta didik dalam membimbing mereka pada tercapainya tujuan pendidikan. Sesungguhnya
keberadaan dan kesunguhan guru dalam melaksanakan tugas akan memberikan energi
positif bagi peserta didiknya dalam mewujudkan harapan indah meraih cita-cita
yang luar biasa. Banyak manfaat yang dapat dipetik bila seorang guru mampu
mengenal kepribadian dan karakter siswanya dengan baik. Beberapa manfaat
tersebut yaitu untuk mengetahui kelebihan yang mereka miliki dan dapat
meningkatkannya, melihati kelemahan yang mereka miliki dan memperbaikinya, dan
mengetahui potensi-potensi yang ada pada diri mereka dan mengoptimalkannya
untuk kesuksesan dimasa yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar