Strategi
Pembelajaran
Oleh : Tarisa [12001161]
Guru yang profesional
dituntut untuk dapat menampilkan keahliannya di depan kelas. Salah satu
keahlian tersebut, yaitu kemampuan menyampaikan pelajaran kepada siswa. Untuk
dapat menyampaikan pelajaran dengan efektif dan efisien, guru perlu mengenal
berbagai jenis strategi pembelajaran sehingga dapat memilih strategi manakah
yang paling tepat untuk mengajarkan suatu bidang studi tertentu. Secara
berturut-turut, Anda akan mempelajari konsep strategi pembelajaran, meliputi
pengertian pendekatan, strategi, metode, teknik pembelajaran, dan teori yang
melandasi, serta berbagai jenis pendekatan dalam strategi pembelajaran.
Dalam rangka pencapaian
tujuan pembelajaran, setiap guru dituntut untuk memahami benar strategi
pembelajaran yang akan diterapkannya. Sehubungan dengan hal tersebut, seorang
guru perlu memikirkan strategi pembelajaran yang akan digunakannya. Pemilihan
strategi pembelajaran yang tepat berdampak pada tingkat penguasaan atau
prestasi belajar siswa.
Kata strategi berasal
dari bahasa Latin strategia, yang diartikan sebagai seni penggunaan rencana
untuk mencapai tujuan. Strategi pembelajaran menurut Frelberg & Driscoll
(1992) dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan pemberian materi pelajaran
pada berbagai tingkatan, untuk siswa yang berbeda, dalam konteks yang berbeda
pula. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan
cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan
pembelajaran tertentu, meliputi sifat, lingkup, dan urutan kegiatan yang dapat
memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Dick & Carey (1996) berpendapat
bahwa strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan,
melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pembelajaran. Strategi
pembelajaran terdiri atas semua komponen materi pelajaran dan prosedur yang
akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Strategi pembelajaran juga dapat diartikan sebagai pola kegiatan pembelajaran
yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik
siswa, kondisi sekolah, lingkungan sekitar serta tujuan khusus pembelajaran
yang dirumuskan.
Gerlach & Ely
(1980) juga mengatakan bahwa perlu adanya kaitan antara strategi pembelajaran
dengan tujuan pembelajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan
pembelajaran yang efektif dan efisien. Strategi pembelajaran terdiri dari
metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan betul-betul
mencapai tujuan pembelajaran. Kata metode dan teknik sering digunakan secara
bergantian. Gerlach & Ely (1980) mengatakan bahwa teknik (yang kadang[1]kadang
disebut metode) dapat diamati dalam setiap kegiatan pembelajaran. Teknik adalah
jalan atau alat (way or means) yang digunakan oleh guru untuk mengarahkan
kegiatan siswa ke arah tujuan yang akan dicapai. Guru yang efektif
sewaktu-waktu siap menggunakan berbagai metode (teknik) dengan efektif dan
efisien menuju tercapainya tujuan.
Burdon & Byrd
(1999) mengemukakan beberapa strategi yang dapat dipilih guru dalam
pembelajaran, yaitu sebagai berikut.
1. Strategi Deduktef-Induktif
Pada waktu guru
merencanakan pembelajaran, perlu dipertimbangkan strategi yang berguna untuk
mencapai keberhasilan pembelajaran. Beberapa strategi yang berpusat pada guru,
seperti ceramah, resitasi, pertanyaan, dan praktik. Strategi yang lain lebih
berorientasi pebelajar, yang menekankan pada inquiry dan discovery. Strategi
pembelajaran menunjukkan kontinum yang terentang dari strategi yang berpusat
pada guru, yang lebih eksplisit ke strategi yang berpusat pada pebelajar, yang
kurang eksplisit. Dengan strategi pembelajaran deduktif, pembelajaran dimulai
dengan prinsip yang diketahui ke prinsip yang tidak diketahui.
Dengan strategi
pembelajaran induktif, pembelajaran dimulai dari prinsip-prinsip yang tidak
diketahui ke prinsip-prinsip yang diketahui. Perbedaan antara keduanya
dicontohkan sebagai berikut guru mengajar konsep “topic sentence”, guru yang
menggunakan pendekatan deduktif meminta pebelajar membaca definisi “topic
sentence”. Kemudian, guru memberikan contoh-contoh topic sentence dan
mengakhiri pelajaran dengan meminta pebelajar menulis kalimat topiknya sendiri.
Selanjutnya, guru dapat mereviu kalimat tersebut dan memberikan balikan
Kekuatan strategi deduktif ini berpusat pada strategi pembelajaran yang
menghubungkan antara contoh guru dan tugas pebelajar. Walaupun koran merupakan
media yang bagus digunakan untuk pelajaran topic sentence.
Guru yang menggunakan
pendekatan induktif mungkin memberikan contoh paragraf dengan penekanan pada
topic sentence. Dengan strategi ini, guru tidak menceritakan pada awal ketika
pebelajar mempelajari topic sentence atau guru tidak memberikan definisinya,
tetapi pada akhirnya pebelajar akan menemukan sendiri apa yang dimaksud dengan
“topic sentence”.
2. Strategi Ekspositori
langsung dan Belajar Tuntas
Strategi ekspositori
langsung, guru menstrukturkan pelajaran dengan maju secara urut. Guru dengan
cermat mengontrol materi dan keterampilan yang dipelajari. Pada umumnya, dengan
strategi ekspositori langsung, guru menyampaikan keterampilan dan konsep-konsep
baru dalam waktu yang relatif singkat. Strategi pembelajaran langsung berpusat
pada materi dan guru menyampaikan tujuan pembelajaran secara jelas kepada
pebelajar. Guru memonitor pemahaman pebelajar dan memberikan balikan terhadap
penampilan mereka. Termasuk dalam strategi pembelajaran langsung, yaitu
pembelajaran eksplisit. Strategi belajar tuntas didasarkan pada keyakinan bahwa
semua pebelajar dapat menuntaskan bahan yang diajarkan jika kondisi-kondisi
pelajaran disiapkan untuk itu. Kondisi-kondisi tersebut meliputi pebelajar
diberi waktu belajar yang cukup, ada balikan untuk penampilannya, program
pembelajaran individual, berkaitan dengan porsi materi yang tak dikuasai pada
pembelajaran awal, dan kesempatan menunjukkan ketuntasan setelah mendapat
remediasi.
a) Pembelajaran
Langsung
Pembelajaran langsung
memiliki 4 komponen, yaitu (a) penentuan tujuan yang jelas, (b) pembelajaran
dipimpin guru, (c) monitoring hasil belajar yang cermat, dan (d) metode
organisasi dan pengelolaan kelas. Pembelajaran langsung efektif karena
didasarkan pada prinsip-prinsip belajar behaviouristik, seperti menarik
perhatian pebelajar, penguatan respons pebelajar, menyediakan balikan korektif,
dan melakukan respons-respons yang betul. Hal ini juga cenderung meningkatkan
waktu belajar.
b) Pembelajaran
Eksplisit
Pembelajaran eksplisit
menuntut guru untuk memberi perhatian kepada pebelajar, memberi penguatan atas
respons yang benar, menyediakan balikan kepada pebelajar tentang kemajuannya,
dan meningkatkan jumlah waktu yang digunakan pebelajar untuk mempelajari
materi.
c) Belajar Tuntas
Belajar tuntas
merupakan suatu pendekatan pembelajaran individual yang menggunakan kurikulum
terstruktur yang dipecah ke dalam serangkaian pengetahuan dan
keterampilan-keterampilan kecil yang dipelajari. Pembelajaran ini didesain
untuk menjamin bahwa pebelajar menguasai tujuan pembelajaran dan juga memberi
waktu yang cukup kepada pebelajar. Model ini meyakini bahwa sebagian besar
pebelajar akan mencapai suatu tingkat tertentu karena waktu belajar fleksibel
dan tiap pebelajar menerima target pembelajaran, praktik yang diperlukan, dan
balikan. Belajar tuntas melibatkan pembelajaran tradisional berbasis kelompok
dan remediasi individual serta pengayaan. Model ini memiliki kegiatan-kegiatan
guru pada tingkat tinggi. Guru mendiagnosis kemampuan-kemampuan pebelajar,
kemudian mempreskripsi kegiatan-kegiatan individual. Belajar tuntas menekankan
pada hal-hal (a) fleksibel/belajar yang menstrukturkan waktu dengan materi, (b)
diagnostik/pembelajaran preskriptif, dan (c) melengkapi keberhasilan seluruh
tujuan oleh semua pebelajar. Pembelajaran yang sesuai dan waktu, merupakan dua
kunci utama belajar tuntas.
d) Ceramah dan
Demonstrasi
Ceramah dan
demonstrasi, merupakan suatu strategi pembelajaran dengan kegiatan guru
menyampaikan fakta-fakta dan prinsip-prinsip, sedangkan pebelajar membuat
catatan-catatan. Mungkin hanya sedikit atau tak ada partisipasi pebelajar
dengan pertanyaan atau diskusi. Ceramah[1]ceramah
dapat digunakan untuk mendesiminasi informasi dalam waktu singkat, menjelaskan
ide-ide yang sukar, mendorong pebelajar untuk belajar, menyajikan informasi
dengan suatu cara tertentu atau menyelesaikannya untuk kelompok khusus atau
untuk menjelaskan tugas belajar. Ceramah tidak harus digunakan apabila tujuan
lebih pada pembelajaran untuk memiliki pengetahuan/informasi yang kompleks,
abstrak atau terperinci, partisipasi pebelajar di sini penting.
e) Demonstrasi
Demonstrasi sama dengan
ceramah dalam hal komunikasi langsung dan pemberian informasi dari guru kepada
pebelajar. Demonstrasi melibatkan pendekatan visual untuk menguji proses,
informasi, ide-ide. Demonstrasi ini membolehkan pebelajar melihat guru sebagai
pebelajar aktif dan model. Pebelajar dapat mengobservasi sesuatu yang riil dan
bagaimana cara bekerjanya. Mungkin berupa demonstrasi murni, demonstrasi dengan
komentar atau demonstrasi partisipatif dengan pebelajar. Dalam banyak kasus,
guru mendemonstrasikan kegiatan tertentu atau kegiatan awal yang meminta
pebelajar melakukannya secara individual. Bagi kebanyakan pebelajar,
demonstrasi guru ini dianggap sebagai contoh suatu kegiatan.
Demonstrasi dapat
digunakan untuk menampilkan ilustrasi atau prosedur yang efisien, mendorong
minat pebelajar dalam suatu topik tertentu, menyiapkan contoh untuk mengajar
keterampilan-keterampilan khusus, dan menyiapkan perubahan-perubahan langkah.
Untuk mencapai demonstrasi yang efektif, guru harus merencanakan demonstrasi
dengan cermat, mempraktikkan demonstrasi, mengembangkan suatu panduan untuk
membimbing demonstrasi, meyakinkan bahwa setiap orang dapat melihat demonstrasi
itu, menjelaskan demonstrasi untuk memusatkan perhatian, memberikan
pertanyaan-pertanyaan, dan merencanakan tindak lanjut demonstrasi.
f)
Pertanyaan-pertanyaan dan Resitasi
Apabila guru
menggunakan pertanyaan, pertimbangkan tingkat pertanyaan, dan penggunaan
pertanyaan konvergen dan divergen, jenis pertanyaan, serta cara menyusun
pertanyaan. Pertama, pertanyaan[1]pertanyaan
dapat dikembangkan untuk tiap tingkat domain kognitif (pengetahuan, pemahaman,
aplikasi, sintesis, dan evaluasi). Kedua, ada dua jenis jawaban yang
dikemukakan. Pertanyaan[1]pertanyaan
konvergen cenderung memiliki satu jawaban yang benar atau paling baik.
Pertanyaan divergen sering merupakan pertanyaan yang terbuka dan biasanya
memiliki banyak jawaban yang sesuai. Ketiga, menentukan jenis pertanyaan yang
tepat pada situasi yang ada. Memfokuskan pertanyaan digunakan untuk memusatkan
perhatian pebelajar pada pelajaran atau pada materi yang didiskusikan.
Pertanyaan ini digunakan untuk menentukan apa yang telah dipelajari oleh
pebelajar, untuk memotivasi dan menimbulkan minat pebelajar saat mulai dan
selama pembelajaran atau mengecek pengertian pebelajar pada akhir pembelajaran.
Keempat, tanpa memperhatikan jenis pertanyaan yang ditanyakan, susunlah
pertanyaan. Tiga langkah untuk menyusun pertanyaan, yaitu (a) ajukan
pertanyaan, (b) beri waktu beberapa saat, dan (c) sebut nama pebelajar yang
akan diberi pertanyaan.
g) Resitasi Resitasi
termasuk pertanyaan guru secara lisan tentang materi yang telah dipelajari.
Guru mungkin memakai resitasi sebagai suatu cara untuk mendiagnosis kemajuan
pebelajar. Pola interaksi khusus, yaitu pertanyaan guru, pebelajar menjawab,
kemudian reaksi guru. Pertanyaan yang sering diajukan guru, yaitu apa, siapa,
di mana, dan kapan. Guru biasanya bertanya tentang “informasi yang diketahui”
pebelajar selama resitasi. Jadi, guru memberi pertanyaan untuk mengetahui
apakah pebelajar mengetahui jawaban tersebut, bukan untuk memperoleh informasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar